Home Artikel IPTEK Pengertian Belajar

Pengertian Belajar

E-mail Print PDF

Pengertian Belajar

Dalam aktivitas kehidupan manusia sehari-hari hampir tidak pernah dapat terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri, maupun di dalam suatu kelompok tertentu. Dipahami atau tidak dipahami, sesungguhnya sebagian besar aktivitas di dalam kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan belajar. Dengan demikian dapat dikatakan, tidak ada ruang dan waktu di mana manusia melepaskan dirinya dari kegiatan belajar, dan itu berarti pula bahwa belajar tidak pernah dibatasi usia, tempat maupun waktu, karena perubahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar juga tidak pernah berhenti.

 

 
            Ada beberapa pengertian yang terkait dengan belajar di mana para ahli mengemukakan definisi belajar yang berbeda-beda. Namun, tampaknya ada semacam kesepakatan di antara mereka yang menyatakan bahwa perbuatan belajar mengandung perubahan dalam diri seseorang yang telah melakukan perbuatan belajar. Perubahan itu bersifat intensional, positif-aktif, dan efektif-fungsional. Sifat intensional berarti perubahan itu terjadi karena pengalaman atau praktik yang dilakukan pelajar dengan sengaja dan disadari, bukan kebetulan. Sifat positif berarti perubahan itu bermanfaat sesuai dengan harapan pelajar, di samping menghasilkan sesuatu yang baru yang lebih baik dibanding yang telah ada sebelumnya. Sifat aktif berarti perubahan itu terjadi karena usaha yang dilakukan pelajar, bukan terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan. Sifat efektif berarti perubahan itu memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. Adapun sifat fungsional berarti perubahan itu relatif tetap serta dapat direproduksi atau dimanfaatkan setiap kali dibutuhkan. (Suparta dan Aly, 2008:27).

            Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannnya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapan dan kemampuannnya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu.

            Oleh sebab itu belajar adalah proses yang aktif, belajar adalah proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu. Apabila kita berbicara tentang belajar maka kita berbicara bagaimana mengubah tingkah laku seseorang. (Sudjana,2000: 28).

            Sementara itu Gredler (1991:1) mendefinisikan belajar adalah proses orang memperoleh kecakapan, ketrampilan, dan sikap. Rosyada dengan mengutip pendapat Kochhar menyatakan belajar adalah sebuah proses yang dengannnya organisme memperoleh bentuk-bentuk perubahan perilaku yang cenderung terus mempengaruhi model perilaku umum menuju pada sebuah peningkatan. Perubahan perilaku tersebut terdiri dari berbagai proses modifikasi menuju bentuk permanent, dan terjadi dalam aspek perbuatan, berpikir, sikap, dan perasaan. Akhirnya dapat dikatakan bahwa belajar itu tiada lain adalah memperoleh pengalaman baru. (Rosyada, 2004: 98). Definisi yang hampir sama dikemukan oleh Sanjaya (2009:57), menurutnya belajar adalah proses perubahan tingkah laku. Namun demikian kita akan sulit melihat bagaimana proses terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri seseorang, oleh karena perubahan tingkah laku berhubungan dengan perubahan sistem syaraf dan perubahan energi yang sulit dilihat dan diraba. Oleh sebab itu, terjadinya proses perubahan tingkah laku merupakan suatu misteri, atau para ahli psikologi menamakannya sebagai kotak hitam (black box).

            Menurut Skinner yang dikutip Dimyati dan Mudjiono (2006:9), belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:

(i)            kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pebelajar,

(ii)          respon si pebelajar, dan

(iii)        konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respon si pembelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respon yang tidak baik diberi teguran dan hukuman.

E.R. Hilgard mendefinisikan belajar sebagai berikut : Learning is the process by which an activity originates or is changed through training procedures (wheter in the laboratory or in natural environment) as distringuisted from changes by factor not attributable to training .

Menurut Hilgard belajar adalah proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui prosedur latihan sehingga terjadi perubahan dalam diri. Baik belajar itu dilakukan dalam laboratorium atau dalam lingkungan alami dimana proses belajar itu terjadi. Perubahan itu dapat terjadi karena faktor- faktor yang bukan berasal dari latihan (Rasyad, 2003: 29).

Batasan yang senada dikemukakan Winkel (1996:53) bahwa belajar merupakan suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif  konstan dan berbekas.

Belajar bukan sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang terjadi pada diri seseorang, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adanya interaksi individu dengan lingkungan yang disadari. Proses belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat. Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak dapat disaksikan hanya mungkin bisa disaksikan lewat gejala-gejala perubahan perilaku yang nampak.

Dalam buku Theories of Learning Hilgard dan Bower mengemukakan:  “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi  tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).” (Purwanto, 1994:84).

Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning (1977) menyatakan bahwa “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannnya (performancenya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”. (Atmowidjoyo, 2009 : 75).

James L Mursell dalam bukunya Succesfull Teaching berpendapat: Learning is experience, exploration and discovery. Belajar adalah upaya dilakukan dengan mengalami sendiri, menjelajahi, menelusuri sendiri dan memperoleh sendiri. Dengan ini kegiatan belajar harus melalui pengalaman, menelusuri yang dipelajari dan akhirnya akan menemukan yang dipelajari. Maka Mursell mengingatkan kepada orang yang melakukan perbuatan belajar agar aktif dalam mencari dan menemukan ilmu yang dibutuhkan seperti yang dilakukan oleh Thomas Alva Edison. Dengan kegigihannya ia akhirnya menemukan prinsip-prinsip dasar listrik yang dewasa ini menjadi tulang punggung teknologi. Dengan konsep belajar Mursell ini setiap orang yang belajar haruslah proaktif baik belajar mandiri (self study) maupun bersama dengan guru (formal). (Rasyad, 2003: 29).

Sementara itu Henry E. Garrett dalam General Psychology mengatakan: Learning is the process which, as a result of training and experience, leads to new or changed responses. Menurut Garrett bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. (Rasyad, 2003:29).

Morgan dalam bukunya Introduction to Psychology (1978) sebagaimana yang dikutip Atmowidjoyo (2007:1) mengemukakan:” Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”. Hal senada dikemukakan Witherington dalam bukunya Educational Psychology mendefinisikan belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari pada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian. (Atmowidjoyo, 2007:1).

Lester D. Crow dan Alice Crow mendefinisikan: learning is the acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap-sikap. Upaya yang dilakukan seorang yang belajar untuk memperoleh berbagai kebiasaan, ilmu dan sikap di atas dilakukan dengan cara-cara tertentu, sehingga hambatan yang ditemukan dalam proses belajar dapat di atasi, sehingga akan menimbulkan suatu perubahan dalam dirinya dalam mereaksi terhadap situasi belajar yang dialaminya. Bila situasi belajar itu sesuai dengan harapan yang bersangkutan, maka terjadi sedikit banyak perubahan dalam dirinya, baik dalam prilaku, tingkah laku maupun psikomotornya. (Rasyad, 2003 : 30).  

Harold Spears mengartikan : learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. (Dengan kata lain, bahwa belajar adalah adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikutio arah tertentu). (Suprijono, 2009:2). Sementara itu Morgan sebagaimana dikutip Suprijono (2009 : 3) memberi batasan belajar sebagai berkut: Learning is relatively permanent change in behavior that is result of past experience. ( Belajar adalah perubahan perilaku yang bersifat permanent sebagai hasil dari pengalaman). Piaget sebagaimana yang dikutip Dimyati dan Mudjiono (2006:13), berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.

Good dan Brophy dalam bukunya Educational Psychologi mengemukakan arti belajar sebagai berikut: “Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar.” Untuk memahami kegiatan yang disebut belajar perlu dilakukan analisis untuk menemukan persoalan-persoalan apa yang terlibat di dalam kegiatan belajar itu. Di muka telah dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses. Sebagai suatu proses sudah barang tentu harus ada yang diproses (masukan atau input), dan hasil dari pemrosesan (keluaran atau output). Jadi dalam hal ini kita dapat menganalisis kegiatan belajar itu dengan strategi analisis sistem. Dengan strategi sistem ini sekaligus kita dapat melihat adanya berbagai faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar. (Atmowidjoyo, 2007 : 2).

 

Disusun oleh : Bukhari, M.Pd.I

Guru MA Nurussaadah

 

 

 

Daftar Pustaka

Suparta, HM dan Ali, Herry Noer, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta, Amissco, cet ke-2, 2008.

 

Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung, Sinar Baru Algensindo, cet ke- 5, 2000.

 

Gredler, Bell dan Margaret, E , Belajar dan Membelajarkan, alih bahasa     Munandir, Jakarta, Rajawali, cet ke 1, 1991.

 

Sanjaya, Wina, Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta, Kencana Prenada media Group, cet ke-2, 2009.

 

Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Rineka Cipta, cet ke-3, 2006.

Rosyad, Aminuddin, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta, Uhamka Press dan Yayasan PEP-Ex 8, cet ke-4, 2003.

 

Winkel, WS, Psikologi Pengajaran, Jakarta, Gramedia, cet ke- 4, 1996.

 

Atmowidjoyo, Sutarjo, Landasan Kependidikan Prinsip-Prinsip Dasar Teori Belajar dan Konsep Intruksional, Jakarta, Universitas Islam Jakarta, 2007.

 

Suprijono, Agus, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem, Yogyakarta, Pustaka pelajar, cet ke-1, 2009.

 

Rosyada,Dede, Paradigma Pendidikan Demokratis Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan , Jakarta, Prenada Media, Jakarta, cet ke-1, 2004.

Atmowidjoyo, Sutarjo, Perencanaan Sistem Intruksional, Jakarta, Universitas Islam Jakarta, cet ke-9, 2009,

 

 

Last Updated ( Saturday, 07 August 2010 10:58 )  

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday64
mod_vvisit_counterYesterday145
mod_vvisit_counterThis week279
mod_vvisit_counterLast week668

Today: Jun 27, 2017

Who's Online

We have 76 guests online

Hijriah Date

Tuesday, 27 June 2017  
2. Syawwal 1438