Home Artikel IMTAQ Teori Persatuan Islam

Teori Persatuan Islam

E-mail Print PDF

Persatuan dalam Islam

Sebelum hadirnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw keadaan masyarakat Arab pada umumnya terpecah belah bersuku-suku, terjadi banyak tindakan kekerasan dan permusuhan diantara mereka, Nabi Muhammad hadir membawa hal baru yaitu pengetahuan ajaran Islam yang disampaikan kepada orang yang yakin akan ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad menyebabkan perubahan pada keadaan bangsa Arab ketika itu yang berdampak terhadap bersatu umat dalam suatu komunitas yaitu umat Islam. Persatuan umat Islam mulai nampak secara kongkrit sejak hadirnya Islam di Madinah setelah peristiwa hijrah, di mana saat itu Rasulullah saw berkedudukan sebagai kepala Negara yang mengatur berbagai macam hal dan sekaligus sebagai panglima angkatan bersenjata. Di kota Madinah Rasulullah saw membangun persatuan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah yang berasaskan Aqidah Islamiyah, sesuai firman Allah SWT :

Artinya, : “orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Maka menjadi bersaudaralah golongan Anshar terdiri dari qabilah Aus dan Khazraj dan golongan Muhajirin yang terdiri dari orang-orang Quraisy. Bahkan ada beberapa shahabat Rasulullah saw yang di luar golongan-golongan tersebut, seperti Bilal Al Habsyi dari Habasyah (sekarang Ethiopia), Shuhaib Ar Rumi dari Romawi (Eropa), dan Salman Al Farisi dari Persia (Iran). Mereka semua adalah bersaudara satu sama lain, sebagaimana Rasulullah saw juga telah mempersaudarakan sesama kaum muslimin atas dasar Islam. Beliau dan Ali bin Abi Thalib adalah dua orang bersaudara, sebagaimana pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib dan maula-nya Zaid juga dua orang bersaudara. Abu Bakar Ash Shiddiq dan Kharijah bin Zaid adalah dua bersaudara, sebagaimana Umar bin Khaththab dan Uthban bin Malik Al Khazraji juga dua orang bersaudara. Demikian pula Thalhah bin Ubaidilah dan Abu Ayyub Al Anshori adalah dua bersaudara, sebagaimana Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Ar Rabi’ juga dua orang bersaudara.[1] Ukhuwah ini benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari tatkala mereka saling memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dalam berdagang, bertani, dan yang lainnya.

Persatuan umat Islam semakin ditegaskan eksistensinya dalam Piagam Madinah[2] yang mengatur interaksi sesama kaum muslimin maupun antar kaum muslimin dengan non-muslim (Yahudi) di Madinah. Dengan perjanjian ini, Rasulullah saw bermaksud membangun masyarakat Islam berdasarkan asas yang tetap dan kokoh, yaitu Aqidah Islamiyah. Dalam kitab-kitab sirah dan hadits disebutkan antara lain teks piagam tersebut:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah kitab (perjanjian) dari Muhammad Nabi Muhammad saw antara orang-orang mu`min dan muslim dari golongan Quraisy dan Yatsrib…: “Sesungguhnya mereka adalah umat yang satu (ummah wahidah), yang berbeda dengan orang-orang lain …”[3]

Dari teks di atas terlihat dengan jelas bahwa umat Islam merupakan satu kesatuan, meskipun tidak berarti negara Islam hanya berwarga negara kaum muslimin. Orang-orang kafir pun dapat menjadi warga negaranya. Dalam Piagam Madinah itu sendiri juga diatur interaksi golongan Yahudi dengan kaum muslimin.

Saat ini kita mengahadapi tantangan besar mengenai bagaimana membawa persatuan dalam Islam. Seiring tentang berkembangnya pengetahuan tentang persatuan kesadaran akan tingkat ketidaktahuan kita pun meningkat, ketidaktahuan ingin menguasai dunia dengan peperangan dan kejahatan. Dalam penelitian ini penulis mencoba memaparkan beberapa teori persatuan Islam itu sendiri. Serta dibagian terakhir dalam Sub Bab ini penulis mencoba untuk memaparkan pendapat beberapa tokoh Islam yang menerangkan tentang pentingnya menjaga persatuan umat saat ini, antara lain Sayyid Muhammad Asy-Syathri (dari kalangan Ahlus Sunnah) dan A.Syarafuddin Al-Musawi ( dari kalangan Syiah).

 

2.3.1    Teori Persatuan Islam

Terdapat beberapa pengertian tentang istilah persatuan sebagai contoh filosofi dari persatuan utamanya berhubungan dengan hal-hal mengenai ide, teori, pandangan dan sistem nilai yang sama. Menekankan pada perpaduan dan persatuan sebagai kunci untuk saling memahami, lebih baik dari pada pergerakan pemikiran yang bertentangan yang dapat memecah-belah. Prinsip dari persatuan dapat menciptakan keadaan saling pengertian dan toleransi berdasarkan persamaan tentang beberapa sudut pandang. [4]

Menurut Tallal Alie Turfe : “persatuan adalah proses perubahan suatu cara untuk menjadi satu kesatuan dan memahami ketauhidan Allah SWT dalam segala ciptaaannya. Setiap segi dalam Islam berhubungan dengan segala prinsip persatuan. Kepercayaan dasar yang melandasi ide dari persatuan adalah kehidupan dan manusia memiliki makna.”[5]

Alie turfe menambahkan bahwa persatuan adalah keadaan menjadi satu atau bersatu, suatu sifat memiliki semangat dan tujuan yang sama dalam harmonisasi dan perasaan, dalam keberagamaan terdapat juga persatuan. Seperti etnis dan kelompok ras yang berbeda bergabung bersama-sama berbagi makanan, dan juga kegiatan agama atau kebudayaan. Mereka saling bertoleransi dan menghormati satu sama lain. Mereka saling memahami dan bekerjasama untuk kebaikan bersama.[6]

Persatuan berasal dari unsur yang satu dan menyatu, yang tidak bisa dipecah dan tidak bertentangan satu sama lain sampai dia merupakan sesuatu bangunan yang kokoh.[7]

Persatuan Islam menurut Alie Turfe : persatuan Islam bukan berarti bahwa kita harus bekerja sama atas dasar yang sama atau bahwa kita harus selalu setuju terhadap segala hal. Kita tidak harus selalu berpikir yang sama, atau menyesuaikan diri untuk memperoleh persatuan. Persatuan dapat menjembatani jarak antara orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda, sehingga memungkinkan mereka untuk saling melengkapi, lebih utuh, dan agar mereka bisa berkonsentrasi untuk tujuan yang lebih besar. Persatuan sejati dapat melampaui segala perbedaan. Sumber dari persatuan adalah menerima satu sama lain, dan tujuannya adalah untuk mengingat Allah[8].

Persatuan islam adalah merupakan sesuatu yang sudah jelas, walaupun kita berbeda-beda tentang sesuatu hal dan kadang perbedaanya bisa berasal dari warna kulit, ras, kelompok atau golongan dan lainnya tapi tujuannya satu, banyak daripada kenyataan yang kita dapati terdapat persamaan politik, ekonomi, ataupun budaya. Persatuan Islam berkembang melalui usaha dari unsur agama, sebab semua dari kita asalnya mempunyai agama yang satu, Nabi yang satu, Al-Quran satu, kendati walaupun adat dan istiadatnya berbeda.[9]

Saat ini persatuan Islam harus mengarah kepada aktualisasi yang jelas bukan dengan slogan-slogan hampa. Sehingga umat Islam memiliki kekuatan, dan kekompakan disaat musuh-musuh Islam menyerangnya dengan berbagai macam hal.

            Persatuan yang diserukan Islam kepada Umatnya berbeda dengan slogan persatuan yang di gaungkan kaum kapitalis Barat dan kaum komunis Marxis. Pada masyarakat kapitalis, kita temukan masyarakat yang bersatu secara lahiriah, tetapi persatuan di dalamnya tumbuh berdasarkan persatuan kepentingan pribadi, kelompok, atau status. Jika terjadi sesuatu yang mengancam kepentingan-kepentingannya, maka terjadilah perpecahan dan gesekan. Sudah jelaslah bahwa persatuan lahiriah seperti itu hanya fenomena yang menipu atau fatamorgana. Dan contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah Perancis, di mana persatuan mereka dalam sekejap lenyap dan pada akhirnya mereka lumpuh dan menyerah kepada Jerman dalam beberapa saat.[10]

            Sedangkan pada masyarakat yang beraliran Marxisme dan masyarakat ala Nazi yang fasis, kita menemukan masyarakat yang bersatu secara lahiriah juga, tetapi persatuan ini yang dipaksakan dari luar. Persatuan yang berdiri pada dasar pengingkaran terhadap nilai yang realistis dari manusia, Ini adalah persatuan yang berdiri diatas paksaan, buka berdiri diatas kerelaan dan pilihan. Persatuan tersebut dipaksakan oleh negara dan tidak tumbuh dari perasaan yang bersumber dari akal dan hati. Oleh karena itu, persatuan semacam ini hanya tinggal menunggu waktu kehancurannya. Setiap persatuan yang tidak tumbuh dari dalam adalah persatuan yang palsu, yang tidak lama lagi akan hancur. Karena persatuan seperti ini tidak memilki akar yang kuat dalam jiwa orang-orang yang memperjuangkannya.[11]

Sesungguhnya persatuan di dalam Islam adalah persatuan yang mengungkapkan tentang kebutuhan psikologis yang dalam, yang mengikat antara sesama umat Islam dengan suatu ikatan cinta kasih dan harmonisasi. Dan tidak ada sesuatu selain ajaran Islam yang mampu menimbulkan persatuan seperti ini. Persatuan Islam berdiri berdasarkan agama persatuan yang bersumber dari hati yang tetap dan dalam, meskipun terdapat kepentingan masyarakat, kelompok, dan individu. Sebab, hakikatnya persatuan Islam merupakan persatuan yang berdasarkan pada apa yang diperjuangkan oleh semua umat.[12]

Inilah persatuan yang diserukan oleh Allah swt terhadap hamba-hambanya yang bertakwa. Persatuan Islam bukanlah persatuan kepentingan, bukan juga persatuan atas dasar paksaan, tetapi persatuan yang bersumber dari hati dan keimanan kepada Allah, beribadah untuk Allah. Sesungguhnya persatuan yang diserukan oleh Islam adalah persatuan yang sejalan dengan realitas eksistensi manusia. Persatuan Islam menyiapkan bagi setiap umatnya seluruh sarana pertumbuhan, kreativitas atau inovasi, serta keterbukaan, dan menyeimbangkan potensi-potensinya. Islam mewarnai realitas sedemikian rupa di mana Islam tidak menyeru umat Islam untuk menciptakan persatuan, kemudian membiarkan adanya unsur-unsur yang mengancam eksistensi sosial. Islam mengusahakan kekokohan dan kesinambungan persatuan ini dengan mengatur kepentingan individu dan kelompok serta kemaslahatan umum dan menyediakan keserasian, sehingga tidak ada benturan yang berakibat kepada kehancuran dan pertentangan kepada masyarakat.[13]

Islam memperhatikan semua itu dan menyediakan berbagai solusi yang seimbang dan benar. Kemudian Islam menyeru kepada persatuan. Persatuan yang bersumber dari hati ini merupakan fenomena dari setiap umat Islam yang benar-benar percaya akan risalah Ilahiah. Dan persatuan ini telah termanifestasi diantara umat Islam dalam bentuknya yang paling indah di era Nabi Muhammad saw. Karena persatuan Islam tersebut umat Islam berhasil memperkuat pondasi keimanan dan melawan musuh-musuh Islam yang banyak, sedangkan musuh-musuh Islam tidaklah demikian. Jiwa mereka tercerai-beraikan, setiap jiwa memiliki tujuan sendiri dan setiap hati mempunyai keinginan sendiri. Allah SWT mengungkap keadaan orang-orang yahudi yaitu musuh Islam yang klasik tentang kelemahan mereka yang bersumber dari sumber perpecahan,[14] sebagaimana firmannya dalam surat Al-Hasyr ayat 14 :

 Oßgߙù't óOßgoY÷t ӉƒÏ‰x© 4 óOßgç6|¡øtrB $Yè‹ÏHsd óOßgçqè=è%ur 4Ó®Lx© 4 y7Ï9ºsŒ óOßg¯Rr'Î ×Pöqs% žw šcqè=É)÷ètƒ ÇÊÍÈ

Artinya : “permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.”

Adapun orang-orang Islam, mereka seperti yang digambarkan oleh Al-Quran di dalam surat Ash-Shaff ayat 4 :

¨bÎ) ©!$# =Ïtä† šúïÏ%©!$# šcqè=ÏG»s)ム’Îû ¾Ï&Î#‹Î6y™ $yÿ|¹ Oßg¯Rr(x. Ö`»uŠ÷Yç ÒÉqß¹ö¨B ÇÍÈ

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Umat Islam seperti bangunan yang kokoh dalam bentuknya, kokoh dalam maknanya. Sesama umat Islam kita bersatu, serta saling mengikat dan menyatu. Tiap bagian dalam umat Islam menunjukkan pandangan yang satu, baik terhadap alam, kehidupan, manusia, pemikiran yang satu tentang berbagai sarana dan tujuan.

Tetapi realitas umat Islam kuat tersebut akan berubah ketika umat Islam sendiri berubah. Dikatakan berubah tatkala umat Islam jauh dari ajaran Islam itu sendiri dan hati serta akal mereka tercerai-beraikan, ketika umat Islam mulai mengikuti slogan-slogan selain Islam dan mulai terpengaruh dengan aktivitas yang tidak bersifat islami yang berlawanan dengan tujuan-tujuan ajaran Islam yang sesungguhnya, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surat Ar-Radd ayat 11 :

žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î ÇÊÊÈ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.“

Karena itu dalam proses mencapai persatuan Islam saat ini dibutuhkan kesabaran, mampu menahan ego kelompok atau golongan, menanamkan rasa toleransi yang tinggi dalam setiap jiwa umat Islam. Selain itu dalam mencapai persatuan kita sebagai umat Islam harus saling memahami dengan mengalahkan prasangaka buruk terhadap umat Islam sendiri dan pendapat sebelumnya yang hanya menjauhkan kita dari persatuan Islam. Saat ini dibutuhkan sikap saling menghormati dengan cara saling memahami kebaikan dan kelebihan masing-masing. Perbedaan pendapat dan konsep Islam yang ada saat ini harus didiskusikan secara ilmiah dengan mencari sudut persatuan Islam yang utama bukan dengan dengan debat yang hanya menimbulkan perpecahan.

Saat ini kesungguhan dalam berjuang dijalan Allah dan menumbuhkan sikap saling menumbuhkan rasa toleransi diperlukan untuk mencapai persatuan Islam. Umat yang terdiri dari setiap individu, keluarga ataupun golongan saat ini harus mampu memberikan kontribusi yang kuat dengan caranya masing-masing dan menghasilkan perdamaian yang harmoni serta tetap menjaga makna perdamaian dan persatuan Islam tersebut.

 

2.3.2    Persatuan Islam menurut Persfektif Tokoh Sunni dan Syiah

2.3.2.1 Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syathiri (Tokoh Sunni)

Teori atau konsep tentang studi pendekatan Mazhab saat ini diperlukan agar wawasan tentang persatuan Islam dapat menemui titik terangnya, Dalam bukunya yang berjudul Al-Wahdah Al-Islamiyah (Persatuan Islam), penulis mencoba menguraikan pendapat tentang pentingnya masalah persatuan Islam dan studi tentang Islam yang dapat membawa manfaat terhadap konflik isu perpecahan mazhab khususnya Sunni dan Syiah yang disampaikan oleh Sayyid Muhammad[15], pendapat yang beliau utarakan didasari karena banyak dari umat Islam yang sibuk dengan perpecahan dan perdebatan mazhab saja. Sayyid Muhammad berkata dalam mukaddimah kitab nya : “ Saya pikir wajib untuk menjelaskan keindahan tentang Islam yang didalamnya termaktub konsep persatuan Islam, yang dibutuhkan oleh masyarakat dewasa ini, lebih dari yang dibutuhkan masa lalu sehingga kaum muslimin tidak terus menerus menyibukkan diri dengan perdebatan-perdebatan mazhab dan pemikiran-pemikiran akidah yang kemudian akan membawa kepada pertentangan yang telah diperingatkan oleh Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Anfal Ayat 46[16] :

(Ÿwur (#qããt“»uZs? (#qè=t±øÿtGsù |=ydõ‹s?ur öä3çt†Í‘ ( ÇÍÏÈ

Artinya : “..Dan Janganlah kalian berbantah-bantahan yang membuat kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian”…

            Menurut Sayyid Muhammad, agama Islam wataknya adalah menyatukan bukan memecah-belah, hal ini didasari karena kita sebagai Muslimin memiliki Nabi yang satu yaitu Nabi Muhammad saw, kita juga memiliki kitab yang satu yaitu Al-Qur’an yang agung yang tidak dimasuki oleh kebatilan dari arah mana saja.[17]

Kiblat yang dimiliki umat Islam juga satu, yaitu Ka’bah yang setiap sehari semalam 5 kali kita menghadap ke arahnya tatkala kita melakukan ibadah sholat baik yang fardhu atau yang sunnah. Kita pun melaksanakan haji setiap tahun, menghadapnya kita kesana merupakan isyarat dari Tuhan atas perintah-Nya kepada kita agar tujuan kita selamanya satu, sehingga kita tidak menyimpang dan tidak pula berselisih.[18]

Karena itu Rasulullah saw mengatakan, “Siapa yang melakukan shalat seperti kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami, maka orang itu adalah muslim yang memiliki jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan An-Nasai.). [19]

Umat Islam juga sepakat mengenai segala sesuatu yang telah diketahui dengan pasti dari ajaran agama, baik berupa perintah-perintah maupun larangan-larangan. Dengan demikian tidak ada pertentangan di antara mazhab-mazhab Islam dalam prinsip-prinsip ini dan tidak juga ada pertentangan dalam masalah-masalah pokok agama mereka yang merupakan tempat mereka kembali kepadanya.[20]

Mengenai perbedaan pendapat yang terjadi dikalangan umat Islam menenurutnya hanya pada masalah furu’. Hakikatnya masala-masalah Furu’ merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari hal ini dikarenakan terbukanya pintu ijtihad dan penafsiran setiap orang yang berbeda-beda. Ketika Rasulullah saw mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman untuk menjadi qadhi, beliau bertanya kepada Muadz, “ Dengan apa engkau akan menghukum diantara mereka?’, Muadz menjawab, “dengan apa yang saya dapatkan dalam Al-Qur’an, jika saya tidak mendapatkannya dalam Al-Qur’an, maka akan saya hukumkan dengan apa yang saya dapatkan dalam Sunnah Rasulullah. Jika tidak mendapatkannya juga, maka saya akan berijtihad dengan pendapat saya.”

Dalam sebuah Hadis, “Barang siapa yang berijtihad dan ijtihadnya benar maka ia akan mendapatkan dua ganjaran dan barang siapa yang berijtihad dan ijtihadnya salah maka ia akan mendaptkan satu ganjaran.” (Al-Bukhari dalam shahihnya).

Sayyid Muhammad juga menerangkan mengenai terjadinya perbedaan pendapat antara mazhab-mazhab Islam hendaknya kita tidak saling bersikap benci, iri, saling tidak menyukai atau bahkan memusuhi saudara kita sendiri. Karena bagaimanapun menurutnya kita semua selaku umat Islam adalah Saudara, seperti Firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 10 :

$yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt öä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ

Artinya: “orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

Umat Islam sudah saatnya untuk memalingkan perhatian dari apa-apa yang terjadi di masa lalu dan di masa sekarang mengenai sejarah perpecahan di antara firqah-firqah yang membuat orang-orang yang berpegang teguh dengan firqahnya hampir-hampir menempatkan umat Muhammmad saw dalam suatu gambaran yang menyerupai gambaran orang-orang kafir seperti Firman Allah SWT dalam surat Al-Ankabut ayat 25 :

¢OèO uQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ãàÿõ3tƒ Nà6àÒ÷èt <Ù÷èt7Î ÚÆyèù=tƒur Nà6àÒ÷èt $VÒ÷èt ãNä31urù'tBur â‘$¨Y9$# $tBur Nà6s9 `ÏiB šúïΎÅÇ»¯R ÇËÎÈ

Artinya: “…kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela'nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali- kali tak ada bagimu para penolongpun.”

Saat ini saatnya umat Islam membawa prinsip “ sebelum segalanya saya adalah seorang Muslim” dan prinsip “matilah sebagai seorang muslim, dan jangan perduli” serta dengan mencurahkan dirinya untuk berdiri dalam satu barisan, saling berpegangan dan berjuang melawan musuh-musuh Islam yang tidak mempunyai keinginan lain selain menghancurkan dan melenyapkan kita. Cukuplah kejadian-kejadian yang membuka mata hati kita mengenai pembantaian umat Islam,[21] dan juga perpecahan mazhab yang terjadi di berbagai negera Islam bahkan sampai menumpahkan darah umat Islam itu sendiri, dapat menjadikan kita sadar bahwa ini semua ternyata bukan jalan yang sebenarnya, melainkan jalan yang sesat.

Dan sudah jelas bahwa kita harus waspada terhadap konspirasi musuh-musuh Islam yang ingin menghancurkan Islam dan memecah-belahnya, Sesungguhnya apa-apa yang kita dengar dan lihat merupakan pendorong terbesar untuk bersatu dan berjihad. Allah SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 14 :

öNèdqè=ÏF»s% ÞOßgöÉj‹yèムª!$# öNà6ƒÏ‰÷ƒr'Î öNÏd̓øƒä†ur öNä.÷ŽÝÇZtƒur óOÎgøŠn=tæ É#ô±o„ur u‘r߉߹ 7Qöqs% šúüÏZÏB÷s•B ÇÊÍÈ

Artinya, “perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.”

Jadi sudah jelas saat ini jihad dan persatuan umat Islam sudah merupakan kewajiban kita, seperti apa yang dilakukan oleh Gerakan Hizbullah Lebanon mereka berusaha menjaga persatuan umat Islam Lebanon dan juga mengajarkan semangat jihad melawan musuh Islam.

 

2.3.2.2 A. Syarafuddin Al-Musawi (Tokoh Syiah)

Pendapat yang kedua yang penulis coba tampilkan adalah berasal dari seorang tokoh Syiah bernama Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi.[22] Ia berpendapat bahwa umat Islam seharusnya dapat lebih sadar akan konsep Islam yang dibawa Rasulullah mengenai anjuran untuk bersatu dan tidak dibuat berpecah-belah oleh isu-isu perpecahan di antara mazhab-mazhab Islam. karena ditekankan oleh A.Syarafuddin bahwa Al-Qur’an dan As-Sunnah sudah sangat jelas menguraikan hakikat agar kita sebagai umat Islam menjaga ukhuwah dan persatuan Islam. Karena kita semua sebagai umat Nabi Muhammad saw adalah bersaudara.

Cukup banyak himbauan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk menjalin hubungan persahabatan dan persaudaraan di antara kaum muslimin, firman Allah SWT,[23] dalam surat At-Taubah ayat 71 :

tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur öNßgàÒ÷èt âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt 4 ÇÐÊÈ

Artinya, : “dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain”….

Dalam surat Al-Fath ayat 29 :

Ӊ£Jpt’C ãAqߙ§‘ «!$# 4 tûïÏ%©!$#ur ÿ¼çmyètB âä!#£‰Ï©r& ’n?tã ͑$¤ÿä3ø9$# âä!$uHxq①öNæhuZ÷t ÇËÒÈ

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka….”

 

 

Dalam surat Ali Imran ayat 103 :

(#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2 «!$# $Yè‹ÏJy_ Ÿwur (#qè%§xÿs? 4 (#rãä.øŒ$#ur |MyJ÷èÏR «!$# öNä3ø‹n=tæ øŒÎ) ÷LäêZä. [ä!#y‰ôãr& y#©9r'sù tû÷üt öNä3Îqè=è% Läêóst7ô¹r'sù ÿ¾ÏmÏFuK÷èÏZÎ $ZRºuq÷zÎ) ÇÊÉÌÈ

Artinya, : “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…”

Menurut A.Syarafuddin hendaknya kita benar-benar menela’ah Al-Qur’an dan As-Sunnah karena telah jelas apa yang sudah di sampaikan Allah SWT mengenai hakikat persaudaraan dan persatuan, lebih lanjut A.Syarafuddin menjelaskan tentang makna Islam dan iman, karena sebagaimana diketahui hanya dengan Islam dan iman seorang hamba dapat meraih puncak keridhoan Allah SWT. Semua perbuatannya bergantung pada nilai-nilai keduanya. Betapapun jelasnya hal ini, bagi A.Syarafuddin ini merupakan penekanan yang harus dilakukan yang semata-mata demi menyadarkan kembali sebagian orang yang fanatik, yang senantiasa ingin membangkitkan kembali semangat kesukuan dan kepartaian jahiliyah.[24]

Perlu diketahui bahwa keadaan umat Islam tidaklah seperti yang digambarkan oleh sekelompok kaum fanatik, pendengki dan pendendam yang selalu mengobarkan fanatisme jahiliyah dan memecah belah persatuan umat Islam sehingga mereka terpecah-belah dan bergolong-golongan, saling mengkafirkan dan saling berlepas tangan, tanpa ada sebab yang mengharuskan mereka bersikap demikian selain bujuk rayu dan tipu daya setan beserta balatentaranya (.....) padahal saat ini kita tengah memasuki era ilmu pengetahuan, era keadilan dan kebenaran, era pencerahan yang seharusnya membuat setiap orang terlbih dahulu meneliti hakikat segala sesuatu secara kritis dan terbuka, meninggalkan kepicikan dan kefanatikan buta, lalu berpegang teguh kepada Kitab Allah yang suci serta Sunnah Nabi-Nya yang mulia. Berikut ini kami kutip sejumlah hadis Nabi Muhammad, yang mendukung realitas di atas:[25]

أَخْرَجَ البُخَارِيْ فيِ الصَّحِيْحِ عَنْ اِبْنِ عَبَّاس رَضِيَ الله ُعَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلّمْ قَالَ لِمَعَاذِ ْبنِ جَبَلِ حِيْنَ بَعَثَهُ إِلى اليَمَنِ: إِنَّكَ سَتَأْتِي قُوْمًا أَهْلُ كِتَابِ، فَإِذَا جِئْتَهُمْ فَادْعُهُمْ إِلى أَنَّ يَشْهَدُوْا أَنَّ لاَّ إلِهَ إِلاّ الله وَأَنَّ محُمَدًا رَسُوْلُ الله، فَإِنَّ هُمْ أَطَاعُوْا لَكَ بِذَلِكَ فَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوْاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ ولَيْلَةٍ، فَإِنَّ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذلِكَ، فَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلى فُقَرَائِهِمْ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لَكَ بِذلِكَ، فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمِ أَمْوَالِهِمْ.

 

Artinya : Al-Bukhari dalam Shahîh-nya meriwayatkan sebuah hadis dari Ibn Abbas (ra) bahwa Rasulullah saw pernah berpesan kepada Mu’adz bin Jabal ketika mengutusnya sebagai gubernur ke negeri Yaman, “ Engkau akan mendatangi suatu kelompok dari Ahlu-Kitab; maka ajaklah mereka bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah. Jika mereka bersedia mengikutimu dalam hal itu, beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima shalat dalam sehari semalam. Apabila mereka menerimanya, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang dikeluarkan dari orang-orang kaya dari kalangan mereka, untuk diberikan kepada kaum fakir-miskin dari mereka. Jika mereka bersedia mematuhimu, maka berhati-hatilah, janganlah engkau secara sengaja mengambil harta yang paling berharga dari milik mereka.

Perhatikanlah, dalam hadis di atas Nabi Muhammad saw menegaskan perlunya keislaman mereka yang semata-mata didasari oleh kepatuhan mereka kepada Mu’adz dalam hal-hal tersebut, sedemikian rupa sehingga dengan itu terjaminlah keselamatan harta-harta mereka, dan lebih-lebih lagi kehormatan diri serta nyawa mereka, seperti halnya anggota-anggota masyarakat muslim lainnya.[26]

Dalam Shahîh-nya Bukhari dan Muslim,

وَأَخْرَجَ البُخَارِيْ وَمُسْلِم فِي صَحِيْحِيْهِمَا عَنْ أُسَامَة بْن زَيْد قَالَ : بُعثنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ إِلى الحَرَقَةِ فَصَبَحْنَا القَوْمِ فَهَزَمْنَا هُمْ وَلحَِقْتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ رَجُلاً مِنْهُمْ، فَلِمَا غَشِيْنَاهُ قَالَ : لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، فَكَفَّ الأَنْصَارِيْ عَنْهُ فَطَعَنْتُهُ بِرَمْحِي حَتىَّ قَتَلَتْهُ، فَلَمَّا قَدَّمْنَا بَلَغَ النَِبيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ ذَلِكَ فَقَالَ : يَا أُسَامَة أَقَتَلْتَهُ بَعْدَ مَا قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ؟ قَلَتْ : كَانَ مُتَعَوِّذًا . قَالَ : فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتىّ تَمَنَّيْتُ أَنِّي لمَ ْ أَكُنْ أَسْلَمَتْ قَبْلَ ذَلِكَ اليَوْمِ. قَلَتْ: مَا تَمَنَّى ذَلِكَ حَتىَّ اعْتَقَدَ أَنَّ جمَِيْعِ مَا عَمِلَهُ قَبْلَ هَذِهِ الوَاقِعَة (مِنْ إِيْمَانِ وَصُحْبَةٍ وَجِهَادٍ وَصَلاَةٍ وَصَوْمٍ وَزَكَاةٍ وَحَجٍّ وَغَيْرُهَا) لاَ يَذْهَبُ عَنْهُ هَذِه السَيِّئَةِ، وَأَنَّ أَعْمَالُهُ الصَالحَِةِ بِأَجْمَعِهَا قَدْ حَبِطَتْ بِهَا .

Artinya : Meriwayatkan dari Usamah bin Zaid, yang berkata, “Rasulullah saw mengutus kami (pergi berperang) ke suatu tempat bernama Harqah. Kami pun langsung menuju tempat itu dan menyerbu musuh di waktu pagi, dan kami berhasil mengalahkan mereka. Kemudian aku dan seorang dari kaum Anshar mengejar seorang laki-laki dari mereka. Ketika kami hendak menghabisinya, ia berucap, ‘La ilâha illa Allâh’. Mendengar kata-kata itu, temanku, si orang Anshar, segera berhenti dan membiarkannya. Tetapi aku langsung menikamnya dengan tombakku dan ia pun mati seketika. Ketika hal ini kemudian diketahui Nabi saw, beliau berkata kepadaku: ‘Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan La ilâha illa Allâh?’ Jawabku, ‘Ya, karena ia mengucapkannya sekedar untuk meminta perlindungan saja.’ Usamah berkata, ‘Rasulullah saw berkali-kali mengulangi pertanyaannya itu, sampai aku berangan-angan, andai saja aku belum menjadi muslim sebelum peristiwa itu.’”

 

Usamah tentu tidak akan berangan-angan demikian, jika ia tidak mengkhawatirkan gugurnya seluruh amal ibadahnya seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya akibat kecerobohannya pada peristiwa itu. Jelaslah bahwa ucapan Usamah tersebut menunjukkan kekhawatirannya akan perbuatan dosanya yang tak terampuni. Karena itu ia berangan-angan seandainya ia baru masuk Islam setelah peristiwa tersebut. Dalam sebuah statmennya Syarafuddin berkata :[27]

 

 وَنَاهِيَكَ بِهَذَا دَلِيْلاً عَلى اِحْتِرَامِ لاَ إِلَهَ إِلاّ اللهُ وَأَهْلُهَا، وَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ حَالَ مَنْ يَقُوْلهُاَ مُتَعَوِّذًا فَمَا ظَنُّكَ بِمَنِ انْعَقَدَتْ بِهَا نُطْفَتُهُ ثُمَّ رَضَعَهَا مِنْ ثَدْييِْ أُمِّهِ، فَاشْتَدَ عَلَيْهَا عِظَمَهُ وَنَبَتَ بِهَا لَحْمُهُ وَامْتَلأَ َمِنْ نُوْرِهَا قَلْبِهِ وَدَانَتْ بِهَا جمَِيْعِ جَوَارِحِهِ، فَلِيْنَتْهُ أَهْلُ العِنَادِ عَنْ غَيْبِهِمْ وَلِيَحْذُرُوْا غَضَبَ الله تَعَالىَ وَسُخْطُ نَبِيْهِمْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ.

“hal ini sudah merupakan bukti kuat akan keterpeliharaan darah setiap pengikrar kalimat Lâ ilâha illa Allâh. Jika demikian itu status pengikrar syahadat yang hanya sekadar menghindari penumpahan darahnya, maka bagaimana dengan mereka yang kalimat Lâ ilâha illa Allâh merupakan penyebab dari asal-usul penciptaannya (yang dihasilkan dari pernikahan kedua orang tuanya yang muslim), lalu ia menyusui tumbuh besar di tengah lingkungan kalimat Lâ ilâha illa Allâh sehinga tulang dan dagingnya tumbuh menguat dan terbentuk bersama kalimat itu, kalbunya diisi oleh cahayanya dan seluruh anggota tubuhnya memancarkan kekuatannya? Karena itu, hendaklah mereka yang keras kepala berhenti dari kebiasaan mengkafirkan sesama muslim. Sudah seharusnya mereka takut akan kemurkaan Allah dan Nabi-Nya sallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam.

 

Al-Bukhari dan Muslim dam shahîh-nya,

وَفِي الصَّحِيْحَين بِالإِسْنَادِ إِلَى المِقْدَاد بِن عَمْرُو أَنَّهُ قَالَ : يَا رَسُوْلُ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ لَقِيْتَ رَجُلاً مِنَ الكُفَّارِ فَاقَتْتَلْنَا فَضَرَبَ إِحدَى يَدَيَّ بِالسَّيْفِ فَقَطَعَهَا، ثُمَّ لاَذَ مِنِّي بِشَجَرَةٍ فَقَالَ أَسْلَمْتُ للهَ، أَأَقَتَلْهُ يَا رَسُولُ الله بَعْدَ أَنَ قَالَهَا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ : لاَ تَقْتُلْهُ، فَإِنْ قَتَلْتَهُ فَإِنَّهُ بِمَنْزِلَتِكَ قَبْلَ أَنْ تَقْتُلْهُ وَإِنَّكَ بِمَنْزِلَتِهِ قَبْلَ أَنْ يَقُوْلَ كَلِمَتِهِ الَّتِي قَالَ.

Artinya : menyebutkan sebuah riwayat dari Miqdad bin ‘Amr, yang pernah suatu saat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda, seandainya aku bertarung salah seorang dari kaum kafir, lalu ia memukul salah satu tanganku dengan pedangnya kemudian berlindung di balik pohon seraya berucap, ‘aslamtu lillâh’ (aku mengikrarkan diriku masuk kepada agama Allah), bolehkah aku membunuhnya setelah ia mengucapkan kalimat itu, wahai Rasulullah?

“Janganlah engkau membunuhnya. Karena apabila ia telah mengucapkannya maka kedudukannya sama dengan kedudukanmu (muslim), dan jika engkau masih membunuhnya juga, maka ketahuilah bahwa statusmu sama dengan statusnya (yakni kafir) sebelum ia mengucapkan kalimat itu.”

 

Tidak ada ungkapan dalam bahasa Arab atau lainnya yang lebih menunjukkan penghormatan terhadap Islam dan para penganutnya melebihi hadis mulia ini. Dalam hadis ini Rasulullah saw menetapkan bahwa Miqdad dengan segala atribut dan prestasi yang telah dicapainya sebagai shabat mulia, sekiranya ia membunuh orang tadi, maka kedudukannya aka setara dengan kedudukan orang-orang kafir yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan orang yang dibunuhnya menempati kedudukan yang sama dengan tokoh-tokoh besar umat Islam terdahulu, pahlawan perang Badr dan Uhud. Sungguh ini merupakan puncak penghormatan bagi para penganut ajaran Tauhid sejauh yang dapat mereka bayangkan. Maka sudah sepatutnya bagi setiap muslim yang selalu gegabah dalam bersikap dan mudah memvonis kafir sesamanya untuk segeralah memohon ampun dan bertakwa kepada Allah.[28]

Karena itu Syarafuddin berpendapat bahwa persatuan Sunnah Syiah adalah kewajiban Syar’i yang harus dipatuhi oleh setiap umat Islam dan tidak boleh dilanggar berdasarkan dalil-dalil qoth’i dari Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi Muhammad serta fatwa-fatwa ulama Islam.

Sesungguhnya perpecahan diantara mereka adalah murni kesia-sia-an dan kebodohan mutlak bahkan merupakan salah satu bentuk tindakan pengerusakan diatas muka bumi yang dapat membinasakan lingkungan dan generasi Islam. Konsep persatuan Islam adalah sebuah keniscayaan demi tegakknya agama ini. Apabila umat Islam telah benar-benar melaksanakan kewajiban ini dan mensosialisasikannya diseluruh aspek kehidupan mereka maka keadilan akan tegak, penguasa akan selalu memperlakukan rakyatnya dengan baik, kesejahteraan akan tercipta secara merata, kerusakan ditubuh umat akan terhindar dan yang tersesat mendapat bimbingan.

Persatuan Islam merupakan solusi terbaik untuk mengembalikan kejayaan Islam seperti apa yang dulu pernah dibawa oleh Rasulullah saw, A.Syarafuddin adalah salah satu ulama dari kalangan Syiah yang menerangkan konsep tentang persatuan Syiah dan juga beliau meluruskan pandangan orang dari kalangan Ahlu Sunnah yang menilai Syiah itu salah. Karena bagi nya Syiah yang dipandang oleh kalangan Ahlu Sunnah tidak seburuk yang di lihat.

 



[1] Sirah Ibnu Hisyam, juz 2 hal. 123-126 dan As Sirah Al Halabiyah, juz 2 hal. 292-293, dikutip dari : http://www.gaulislam.com

[2] Piagam Madinah (bahasa Arab: صحیفة المدینه, shahifatul madinah) juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad saw, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yasthrib (kemudian bernama Madinah) di tahun 622 M. Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani 'Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut Ummah. Dikutip dari : http://id.wikipedia.org/wiki/Piagam_Madinah.

[3] Sirah Ibnu Hisyam, juz 2. Ibid. hal. 119. Dikutip dari : http://www.gaulislam.com

[4] Tallal Alie Turfe, Unity in Islam, Reflection and insights, New York : Tahrike Tarsile Qur’an, Inc., 2004) hal. 45.

[5] “Unity is process of synthesis, a means of becoming whole and comprehending the absolute oneness of all existence. Every facet of islam revolves around the principle of unity. The basic faith that lies behind the ideal of unity is that the existence of life and humanity has meaning.” Tallal Alie Turfe, Ibid, hal. 46.

[6] Tallal Alie Turfe, Ibid, hal. 41.

[7] لسان العرب لإبن منظور : ٣ / ٤٤٨ – ٤٤٩ ، دار صادر بيروت ، بدون تاريخ.

[8] “The definition of islamic unity is not that we work together on the same cause or that we totally agree on all issues. We do not have to thing alike, or conform, in order to have unity. Unity is bridging the gap between people of different views in such a way that enables them to complement each other, to be more complete, and to concentrate on the bigger picture. True unity transcends differences. In reality, true unity comes out of diversity. When true unity exists, dialogue becomes productive. The source of unity comes in accepting one another, and its purpose is that we remember Allah.”. Tallal Alie Turfe, Ibid, hal. 46.

[9] Abdullah Audah, dikutip dari : http://www.alwihdah.com/fikr.php

[10] Muhammad Baqir Shadr. Loc.Cit. hal.57.

[11] Muhammad Baqir Shadr. Ibid. hal.58.

[12] Muhammad Baqir Shadr. Ibid. hal.59.

[13] Muhammad Baqir Shadr. Ibid. hal.59.

[14] Muhammad Baqir Shadr. Ibid. hal.60.

[15] Sayyid Muhammad bin Ahmad Asy-Syahtiri adalah seorang ahli dalam ilmu agama yang berasal dari Hadramaut Yaman. beliau banyak mengarang kitab-kitab tentang peengetahuan Islam dan karangan tentang persatuan Islam, sampai Raja Khalid bin Abdul Aziz (Raja Saudi Arabia) pernah memberikan penghargaan atas ilmu-nya dan keutamaannya, Saat buku Al-Wahdah Al-Islamiyah (Persatuan Islam) ini terbit di indonesia tahun 1997 beliau masih hidup dan tinggal di Saudi Arabia.

[16] Sayyid Muhammad, Persatuan Islam. Jakarta : Lentera, 1997. hal.7.

[17]Sayyid Muhammad, Ibid, hal.11.

[18] Sayyid Muhammad, Ibid, hal..11

[19] Sayyid Muhammad, Ibid, hal..11.

[20] Sayyid Muhammad, Ibid, hal..12.

[21] Sayyid Muhammad, Ibid, hal.43.

[22] Sayyid Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi dilahirkan pada tahun 1290 H di kota Kadzimiah, Irak, beliau seorang ulama yang cukup disegani di kalangan ulama Syi’ah. Banyak karangan beliau tentang pendekatan antar mazhab Islam antara lain bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul Dialog Sunnah-Syi’ah, sebuah catatan tentang dialog beliau dengan Rektor Al-Azhar, Syaikh Salim Al-Bisyri Al-Maliki, pada sat kunjungannya ke Mesir. Beliau meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 1957, dalam usia 87 tahun di Amila, Lebanon, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Najaf, Irak.

[23] A.Syarafuddin, OpCit, hal.18.

[24] A.Syarafuddin, Ibid, hal.21.

[25] A.Syarafuddin, Ibid, hal.25.

[26] A.Syarafuddin, Ibid, hal.26.

[27] A.Syarafuddin, Ibid, hal.27.

[28] A.Syarafuddin, Ibid, hal.28.

Last Updated ( Monday, 09 August 2010 21:57 )  

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday64
mod_vvisit_counterYesterday145
mod_vvisit_counterThis week279
mod_vvisit_counterLast week668

Today: Jun 27, 2017

Who's Online

We have 75 guests online

Hijriah Date

Tuesday, 27 June 2017  
2. Syawwal 1438